Laman

Sabtu, 03 Mei 2014

KOMITMEN DAN KEPUASAN KERJA



Nama Kelompok
1.    Vivi Latfiah ( 2013-265)

2.    Indra Pramana ( 2013-266)

3.    Latifah ( 2013-267)

4.    Ariesta Firlianda ( 2013-268)

5.    Venty Yulia N( 2013-269)

6.    Roviana Arifatul ( 2013-270)
Tugas Kelompok
:  Presentasi sikap kerja : komitmen, kepuasan kerja
Tanggal Presentasi
: Senin, 31 Maret 2014
Materi Pembahasan
: sikap kerja : komitmen, kepuasan kerja, keterlibatan kerja, keterikatan, dan OCB

KOMITMEN DAN KEPUASAN KERJA
1.        KOMITMEN KERJA
Definisi komitmen adalah suatu keadaan individu yang setuju untuk melakukan sesuatu untuk diri, oranglain, kelompok atau organisasi. Menurut ( Kaspinor, 2004 ) semodern apapun organisasi, tetap yang menjadi hal inti adalah SDM ( Sumber Daya Manusia ) organisasi tersebut. Robbins ( 2006 ) menambahkan,  kualitas SDM yang baik adalah orang-orang yang memiliki komitmen organisasi. Dengan memiliki komitmen organisasi yang baik karyawan akan memiliki potensi untuk memperbaiki kinerjanya baik secara individu atau secara kelompok bahkan organisasi. Komitmen organisasi ini dapat terbentuk jika ada rasa kepuasan kerja yang dirasakan oleh karyawan. Kepuasan kerja karyawan ini akan memberikan rasa nyaman pada tugas dan lingkungan kerjanya ( dalam Yunowo.2005 ).
Fatoni ( 2005 ) menyatakan bahwa komitmen adalah salah satu unsur yang paling penting dalam bekerja. Alasan dasar yang dipahami dalam setiap profesi adalah kepercayaan publik terhadap kualitas jasa yang diberikan oleh perusahaan. Komitmen harus ditumbuhkan dalam setiap karyawan agar tercipta kondisi kerja yang kondusif, sehingga akan berjalan secara efisien dan efektif.Bentuk dalam komitmen kerja ada dua bentuk, antara lain :
·      komitmensikap (attitudinalcommitment) dalam hal ini akan disesuaikan oleh individu, apakah nilai yang dianutnya sama dengan yang dianut atau ditentukan oleh perusahaan, serta seberapa jauh dia mampu bertahan dalam perusahaan tersebut.
·      Bentuk yang kedua adalah komitmen tingkah laku (behavioral commitment) yang mencakup bagaimana individu memutuskan untuk bergabung dengan perusahaan jika terdapat kerugian dan cara alternatif yang digunakan diluar dari pekerjaannya saat ini. komitmen tingkah laku ini bukan hanya bagaimana individu dengan perusahaan, melainkan bagaimana hubungan sikap individu dengan perusahaan (Miner, 1992).
Ciri-ciri adanya komitmen dalam individu antara lain, 1) belief adalah kepercayaan yang kuat serta penerimaan tujuan sebuah perusahaan, 2) bagaimana individu siap bekerja keras dalam bekerja, 3) seberapa kuat keinginannnya dalam bertahan di perusahaan tersebut.
Komponen-komponen yang dapat membentuk komitmen dalam perusahaan ada tiga, yaitu :
a)        yang pertama komitmen afektif yang berkaitan langsung dengan emosional karyawan, keterlibatan karyawan, dan identifikasi karyawan. Karyawan yang mampu bertahan lama dengan komitmennya, menandakan bahwa karyawan tersebut memiliki komitmen afektif yang tinggi, karena memang karyawan tersebut ( want to ) melakukan hal tersebut. Dalam meningkatkan komitmen afektif karyawan, pihak perusahaan dapat melakukan perekrutan dengan mencari para pegawai yang nilai-nilai hidupnya sesuai dengan nilai perusahaan. Lingkungan kerja yang positif dan kondusif juga harus ditingkatkan guna memberikan rasa nyaman bagi pegawai.
b)        Komponen kedua adalah komitmen berkelanjutan yang mengharuskan karyawan mempertimbangkan untung rugi dan apakah harus tinggal atau pergi dari perusahaan tersebut. Karyawan yang memiliki komitmen ini akan lebih memilih bertahan karena merasa butuh dan tidak ada pilihan yang lainnya. Cara untuk meningkatkan komitmen ini yaitu dengan memberikan banyak tunjangan yang progresif dan program-program perkembangan SDM. Contoh : di salah satu pabrik rokok di Malag, ketika pegawainya sakit ada tunjangan kesehatan di klinik, tidak ada pemungutan biaya dan pegawai diberi cuti selama sakit.
c)        Komitmen terakhir yaitu komitmen normatif adanya perasaan wajib yang mengharuskan tetap tinggal dalam suatu perusahaan. Karyawan yang memiliki komitmen normatif yang tinggi akan merasa wajib (ought to) bertahan dalam perusahaan tersebut. Dengan hal tersebut tingkah laku karyawan mulai memikirkan dan berkeyakinan “ apa yang benar “ serta berkaitan dengan masalah moral. Komponen komitmen ini dapat berkembang sebagai hasil dari pengalaman karyawan, dan ini menjadi sebuah kekuatan mengikat yang memengaruhi akibat pergantian pegawai dan bagaimana perilaku karyawan di tempat kerja seperti kinerja, absensi kehadiran, keanggotaan organisasi. Meningkatnya komitmen ini dapat dilakukan jika pihak manajemen dapat meningkatkan kepercayaan disemua divisi perusahaan dan tidak melanggar kontrak psikologisnya.


2.      KEPUASAN KERJA
Selayaknya manusia kepuasaan sifatnya relatif, dan dalam kepuasan kerja merupakan sesuatu yang bersifat individual. Dapat juga dikatakan bahwa kepuasan kerja merupakan gambaran terhadap individu apakah dia senang atau tidak, puas atau tidak puas dalam melakukan pekerjaannya. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa para pegawai baru mendapat kepuasan yang lebih tinggi dari pegawai yang lama, karena pegawai baru seringkali mendapat perhatian yang lebih dari manajemen bahkan atasan.  Teori  tentang kepuasan kerja antara lain, Ketidaksesuaian ( Discrepancy theory ) adalah keadaan yang apabila kepuasan yang diperoleh melebihi yang diinginkan. Selanjutnya, teori Keadilan ( Equity theory ) yang menyatakan puas atau tidak puasnya seseorang bergantung pada ada atau tidak adanya suatu keadilan, khususnya dalam lingkungan kerja.
Individu dapat dikatakan memperoleh kepuasan ketika bertemu dengan konteks-konteks, yaitu apabila individu memperoleh hasil atau imbalan melebihi apa yang dia inginkan. Selanjutnya apabila individu telah mencapai standart melebihi yang ditetapkan perusahaan, maka ia layak mendapat imbalan dari perusahaan. Faktor-faktor yang dapat berpengaruh dalam kepuasan kerja seorang karyawan ada dalam dua kelompok, yang pertama adalah faktor intrinstik yang pengaruhnya ada dalam diri setiap individu yang dibawa sejak bekerja dalam suatu perusahaan. Yang kedua yaitu faktor ekstrinsik yang menyangkut dari hal-hal yang berada diluar dirinya, seperti lingkungan tempat kerja, sistem gaji, keakraban dengan sesama karyawan, kedudukan, jaminan sosial, pangkat dan jabatan, mutu pengawasan.
Kepuasan kerja berdasarkan pada “security filling” (rasa aman) dan mempunyai beberapa segi. Yang pertama adalah segi sosial ekonomi yang meliputi gaji, jaminan sosial. Yang kedua segi sosial psikologi yang meliputi kesempatan untuk maju, kesempatan unutk mendapat penghargaan, adanya pengawasan, hubungan sesama kariawan dan antara kariawan dengan atasan.
Kepuasaan dalam bekerja tentunya memiliki sebab-sebab yang menjadi alasan seorang pegawai memperoleh kepuasan. Terdapat lima sebab yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja antara lain :
1.        Pemenuhan Kebutuhan , karakteristik pekerjaan memungkinkan bagi pegawai untuk memenuhi kebutuhannya. Menurut survey pegawai memilih empat hal yang paling berpengaruh dalam kepuasaan kerja, yaitu gaji, tunjangan, keamanan pekerjaan, keseimbangan pekerjaan. Model-model pemenuhan kebutuhan ini mengalami banyak pertentangan besar, tetapi pemenuhan kebutuhan ini tetap memiliki hubungan dengan kepuasan kerja.
2.        Ketidaksesuaian, model-model ini menyatakan bahwa orang akan puas jika ekspetasinya terpenuhi. Ekspetasi yang terpenuhi bagi setiap pegawai berbeda, seperti gaji, penempatan, promosi jabatan, dan apa yang sebenarnya dia terima. Apabila ekspetasi lebih besar dari apa yang diterima, maka pegawai akan merasa tidak puas. Yang dilakukan perusahaan dalam mengevaluasi hal ini dengan melakukan survei sikap atau meminta pendapat untui menilai ekspetasi dan tuntutan yang diharapkan pegawai.
3.        Pencapaian nilai, dalam hal ini penekanan ada pada bagaiman perusahaan dapat menerapkan serta memberikan nilai-nilai kerja yang dibutuhkan oleh pegawai. Dengan terpenuhinya nilai-nilai tersebut maka kepuasan kerja juga dapat diraih. Para atasan atau manajer dapat membangun lingkungan kerja dan penghargaan untuk menguatkan nilai-nilai tersebut.
4.        Keadilan, ini adalah tugas para manajer dalam bersikap adil dilingkungan pekerjaan, serta mengawasi persepsi keadilan yang dimaksud pegawai dan cara berinteraksi dengan pegawai yang akan membuat mereka merasa diperlakukan secara pantas.
5.        Komponen-komponen Disposisi / Genetis, kepuasan bagi pegawai satu dengan yang lain memiliki ukuran yang berbeda. Ada pegawai yang mudah puas dengan apa yang didapat sekarang, tapi ada juga pegawai yang merasa kurang.

DAFTAR PUSTAKA
Kreiner,R,Kinicki,A.(2014).Perilaku Organisasi.Jakarta;Salemba empat

Rival,V.(2005).Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan.Jakarta;PT.Raja Gravinda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar